Di era digital ini, sering muncul pertanyaan: masih perlukah kita membaca buku fisik jika AI bisa menjawab segalanya dalam hitungan detik? Jawabannya: justru semakin perlu. Kuncinya ada pada prinsip sederhana: Jadikan buku sebagai sumber kebenaran, dan AI sebagai alat bantu.

Mengapa posisi ini tidak boleh dibalik?

Buku Adalah Penjaga Fakta Buku layak dijadikan “Tuan” atau penentu kebenaran karena proses lahirnya yang ketat. Ada penulis yang bertanggung jawab, ada editor yang memeriksa fakta, dan isinya mendalam. Jika ada kesalahan, kita tahu siapa yang harus dituntut. Isinya tetap dan tidak berubah-ubah mengikuti algoritma.

AI Adalah Asisten yang Terkadang “Lupa” Sebaliknya, AI hanyalah “Alat Bantu”. Ia bekerja dengan meramu jutaan informasi dari internet yang campur aduk. AI sangat pintar merangkai kata, namun sering mengalami “halusinasi”—menjawab dengan sangat meyakinkan padahal isinya salah atau bahkan hoax. Ia tidak memeriksa fakta, ia hanya memprediksi kata.

Cara Penerapannya Dalam kegiatan literasi atau Taman Baca, jangan musuhi teknologi, tapi letakkan pada porsinya.

Salah: Bertanya pada AI dan langsung percaya 100% tanpa cek ulang.

Benar: Gunakan AI untuk mencari ide awal (misalnya: “Siapa saja pahlawan dari Jawa Timur?”). Setelah AI memberi daftar nama, buka buku sejarah di rak untuk memverifikasi dan membaca kisah aslinya secara utuh.

Kesimpulan Mudahnya, bayangkan AI sebagai “teman yang pintar bicara tapi kadang suka membual”, sedangkan Buku adalah “dokumen resmi yang sah”. Kita boleh mendengarkan teman untuk mencari inspirasi, tapi untuk memastikan kebenaran, kita wajib mengecek dokumen resminya.